Ribuan Ojol Mogok Massal di Jakarta, Tuntut Potongan Aplikasi Dikurangi
Jakarta, 20/05/2025 — Ribuan pengemudi ojek online (ojol) memadati kawasan Monas dan Jalan Medan Merdeka pada Senin pagi dalam aksi unjuk rasa besar-besaran. Aksi yang dikenal sebagai “Aksi 205” ini digelar sebagai bentuk protes terhadap tingginya potongan dari perusahaan aplikasi yang dinilai semakin membebani penghasilan pengemudi.
Sejak pukul 08.00 WIB, ribuan pengemudi dari Jakarta dan sekitarnya berdatangan dengan mengenakan jaket khas hijau dan biru. Mereka berkumpul di depan gerbang Monas, membawa spanduk berisi tuntutan, serta mematikan aplikasi masing-masing sebagai bentuk mogok massal.
Dalam orasinya, para pengemudi menyuarakan tiga tuntutan utama: penurunan potongan aplikasi yang dinilai terlalu tinggi, perlindungan hukum bagi pengemudi, serta penyesuaian tarif dasar yang lebih layak. Mereka juga meminta agar pemerintah turun tangan mengawasi praktik aplikator yang dianggap tidak adil terhadap mitra pengemudi.
“Potongan aplikasi sekarang bisa sampai 30 persen. Kami kerja dari pagi sampai malam, tapi penghasilan bersih makin kecil. Kami cuma ingin keadilan,” ujar Rizal, salah satu pengemudi ojol yang ikut aksi dari kawasan Ciputat.
Aksi ini menyebabkan arus lalu lintas di sekitar Monas dan Jalan Thamrin tersendat. Pihak kepolisian pun menutup beberapa ruas jalan dan mengerahkan ratusan personel untuk mengamankan jalannya demonstrasi agar tetap kondusif.
Layanan transportasi dan pengantaran makanan daring di wilayah Jakarta sempat terganggu. Banyak pengguna aplikasi yang mengeluhkan sulitnya mendapatkan pengemudi selama pagi hingga siang hari.
Di sisi lain, aksi ini memunculkan respons dari masyarakat. Sebagian warga mendukung perjuangan para pengemudi, mengingat peran mereka yang vital dalam kehidupan urban. Namun, tidak sedikit pula yang terdampak karena terganggunya layanan harian.
Pemerintah Provinsi DKI Jakarta belum memberikan pernyataan resmi terkait tuntutan para pengemudi, namun Kementerian Perhubungan sebelumnya menyatakan akan membuka ruang dialog antara pengemudi dan perusahaan aplikasi.
Hingga siang hari, massa aksi masih bertahan di sekitar Monas dengan tertib. Tidak ada laporan bentrokan atau insiden serius. Para pengemudi menyatakan akan terus menuntut hak-hak mereka hingga mendapat tanggapan konkret dari aplikator maupun pemerintah.
Aksi 205 ini menjadi salah satu unjuk rasa terbesar dari kalangan pengemudi daring dalam beberapa tahun terakhir. Para pengemudi berharap suara mereka bisa menjadi pengingat bahwa kemajuan teknologi harus tetap berpihak pada keadilan dan kesejahteraan pekerja.